Go Back Go Back
Go Back Go Back

Celebration of World Population Day 2025 with Dialogue, Comedy & Music about Aspirations for the Future

Celebration of World Population Day 2025 with Dialogue, Comedy & Music about Aspirations for the Future

Press Release

Celebration of World Population Day 2025 with Dialogue, Comedy & Music about Aspirations for the Future

calendar_today 31 July 2025

World Population Day 2025 - UNFPA Indonesia
Young participants and officials, including Bogor Mayor Dedie A Rachim, Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto from Kemendukbangga, and Verania Andria from UNFPA Indonesia, pose together at the World Population Day 2025 celebration in Bogor, advocating for youth empowerment and reproductive agency. | Photo: Kemendukbangga/BKKBN

Bogor, 30 July 2025 – Over 200 young people gathered today in Sindangbarang, West Bogor, to celebrate World Population Day (WPD) 2025 alongside the Ministry of Population and Family Development (Kemendukbangga/BKKBN) and the United Nations Population Fund (UNFPA). Through lively discussions, music, and the relatable humor of stand-up comedy, the event brought this year's important theme to life: "Empowering young people to create the families they want in a fair and hopeful world".

The atmosphere buzzed with energy as well-known Indonesian comedians Dany Beler and Sakdiyah Ma'ruf, alongside five finalists of the “Open Stage: Yang Muda yang Bersuara” competition, who were selected through a social media campaign, encouraged the audience to think about reproductive agency (see the streaming of the event on Youtube). 

As highlighted by UNFPA’s latest State of World Population (SWP) report, too many individuals are unable to create the families they aspire to, often due to significant social, financial, and health barriers. This report uncovered a critical reality: although more than 70% of respondents in Indonesia want two or more children, 17% of them feel they are unable to have them. The primary factors listed are financial limitations, housing limitations, and job insecurity. 

“The decision to have children nowadays is more difficult compared to the previous eras. Planning marriage and having children requires proper knowledge and understanding. So, young people need support from their parents, families, and communities,” said Verania Andria, UNFPA Indonesia Assistant Representative.

 

“Don’t force young people to get married quickly. Help them to continue their education and to contribute to the economy.” Verania Andria

Young people are often unfairly blamed for changes in global population trends. Yet, they're actually dealing with deep worries about their own futures. Things like climate change, unstable economies, and growing conflicts worldwide cast a long shadow, making many feel their opportunities are shrinking compared to previous generations. This widespread uncertainty directly affects their decisions about relationships and becoming parents.

 

UNFPA Indonesia - World Population Day - Youth Dialogue
Youth representatives engage in a lively discussion on aspirations for family and future during the World Population Day 2025 celebration in Bogor. |  Photo: Kemendukbangga/BKKBN

 

The WPD 2025 celebration in Bogor highlighted a crucial message: fairness between generations is essential for lasting progress, well-being, and peace. Encouraging understanding and support between generations, and protecting the human rights of everyone is key to ensuring health and respect throughout every stage of life.

“I’m optimistic to see young people and adolescents who came here to learn, to gain more experience and relations. They are agents of change who will be the main actors in the Golden Indonesian 2045 period,” said Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto S.Si, M.Eng, Deputy of Population Management, Kemendukbangga/BKKBN.

Empowering young people means more than just acknowledging their worries. It means investing in good health education about reproduction, helping them find stable jobs with fair pay that cover living costs, and changing systems. It also means actively involving young people in making decisions, so their concerns about the future are heard and shape the policies that will impact their lives and the communities they live in.

“Today, 72 percent of Indonesian population are of productive age, from 15 to  64 years old, and 60 percent of them are adolescents. This is an opportunity, but it will not automatically become a bonus if there is no investment,” said Dr. Bonivasius. "If health and education outcomes are good, we can achieve demographic dividend," he continued.

Verania also emphasized that gender equality is an absolute prerequisite to making the Golden Indonesia 2045 a reality. “We must improve women’s participation in education, in employment, so that we can realize 100 percent of Indonesia’s potential. Prepare them with knowledge, understand their choices, and support them as parents, families, and communities,” Verania asserted.

 

 

For more information, please contact:

Rahmi Dian Agustino

UNFPA Indonesia, Communications Analyst

agustino@unfpa.org

 

 

 

 

 

 

 


 

SIARAN PERS

Peringatan Hari Kependudukan Dunia 2025 dengan Dialog, Komedi & Musik tentang Aspirasi Masa Depan

 

 

Hari Kependudukan Dunia 2025 - UNFPA Indonesia - Asmi Nurais
Para pengisi acara musik memukau penonton dengan lagu yang mengangkat tema pernikahan dan perencanaan keluarga dalam acara Hari Kependudukan Dunia 2025.  |  Photo: Kemendukbangga/BKKBN

Bogor, 30 Juli 2025 – Lebih dari 200 orang muda berkumpul hari ini di Sindangbarang, Bogor Barat, untuk merayakan Hari Kependudukan Dunia (HKD) 2025 bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) dan Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-bangsa (UNFPA). Melalui diskusi yang hidup, musik, dan humor yang relevan dari stand-up comedy, acara ini menghidupkan tema penting tahun ini: "Berdayakan orang muda untuk membangun keluarga yang mereka inginkan di dunia yang adil dan penuh harapan".

Suasana acara bertajuk “Yang Muda, Yang Berdaya” (tonton streaming-nya di Youtube) ini dipenuhi energi saat komika ternama Indonesia, Dany Beler dan Sakdiyah Ma'ruf, serta lima finalis lomba “Open Stage: Yang Muda yang Bersuara” yang dipilih melalui kampanye media sosial, mengajak para penonton untuk berpikir tentang kemampuan orang muda dalam membuat pilihan reproduksi. 

Seperti yang disoroti oleh laporan State of World Population (SWP) terbaru oleh UNFPA, terlalu banyak individu yang tidak dapat mewujudkan keluarga yang mereka inginkan, seringkali karena hambatan sosial, finansial, dan kesehatan yang signifikan. Laporan ini mengungkap realitas penting: meskipun lebih dari 70% responden Indonesia menginginkan dua anak atau lebih, sebanyak 17% merasa tidak akan mampu mewujudkannya. Faktor utamanya adalah keterbatasan finansial, keterbatasan perumahan dan ketidakamanan pekerjaan.

“Keputusan untuk memiliki anak sekarang lebih sulit dari zaman sebelumnya. Merencanakan perkawinan dan anak itu membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang baik, jadi anak muda butuh dukungan orang tua, keluarga, dan komunitas,” kata Verania Andria, UNFPA Indonesia Assistant Representative.

 

“Jangan paksa anak muda menikah lebih cepat. Bantu mereka untuk terus bersekolah dan berkontribusi dalam ekonomi.” Verania Andria

Orang muda seringkali secara tidak adil disalahkan atas perubahan tren populasi global. Namun, mereka sebenarnya menghadapi kekhawatiran mendalam tentang masa depan mereka sendiri. Hal-hal seperti perubahan iklim, ekonomi yang tidak stabil, dan konflik yang berkembang di seluruh dunia membayangi, membuat banyak dari mereka merasa peluang mereka semakin menyusut dibandingkan generasi sebelumnya. Ketidakpastian yang meluas ini secara langsung memengaruhi keputusan reproduksi mereka.

Perayaan HKD 2025 di Bogor menyoroti pesan utama: keadilan antargenerasi sangat penting untuk kemajuan yang berkelanjutan, kesejahteraan, dan perdamaian. Mendorong pemahaman dan dukungan antara generasi, serta melindungi hak asasi manusia semua orang adalah kunci untuk memastikan kesehatan dan martabat di setiap tahap kehidupan.

“Saya optimis melihat anak muda dan remaja yang datang ke sini untuk belajar dan menambah pengalaman dan relasi. Mereka adalah agents of change yang akan menjadi pelaku utama pada periode Indonesia Emas 2045 mendatang,” kata Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto S.Si, M.Eng, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk, Kemendukbangga/BKKBN.

 

Hari Kependudukan Dunia 2025 - UNFPA Indonesia - Verania Andria
Verania Andria, UNFPA Indonesia Assistant Representative, berbicara tentang pentingnya keadilan antargenerasi dan dukungan bagi orang muda untuk membuat pilihan reproduksi yang mereka inginkan, dalam perayaan Hari Kependudukan Dunia 2025.

Memberdayakan orang muda berarti lebih dari sekadar mendengar kekhawatiran mereka. Ini berarti berinvestasi dalam pendidikan kesehatan reproduksi yang baik, membantu mereka menemukan pekerjaan yang stabil dengan upah yang adil yang menutupi biaya hidup, dan mengubah sistem. Ini juga berarti secara aktif melibatkan orang muda dalam pengambilan keputusan, sehingga kekhawatiran mereka tentang masa depan didengar dan membentuk kebijakan yang akan memengaruhi kehidupan dan komunitas tempat mereka tinggal.

“Saat ini, 72 persen penduduk Indonesia berada dalam usia produktif 15 hingga 64 tahun, dan 60 persennya adalah remaja. Ini peluang, tapi bukan otomatis menjadi bonus kalau tidak ada investasi,” ujar Dr. Bonivasius. "Kalau kesehatan dan pendidikan terjaga dengan baik, maka bonus demografi bisa kita capai," lanjutnya.

Verania juga menegaskan bahwa kesetaraan gender merupakan syarat mutlak untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. “Partisipasi perempuan di pendidikan, di ketenagakerjaan, harus kita naikkan sehingga 100 persen potensi Indonesia bisa kita wujudkan. Bekali pengetahuan, pahami pilihan-pilihan mereka, dan dukung mereka sebagai orang tua, keluarga, dan komunitas, tegas Verania.

 

 

 

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Rahmi Dian Agustino

Communications Analyst, UNFPA Indonesia

agustino@unfpa.org