28 Juta Perempuan Mengalami Kekerasan

31-March-2017

Kompas

 

JAKARTA, Indonesia: 31 Maret 2017 — Satu dari tiga perempuan Indonesia berusia 15­-64 tahun atau sekitar 28 juta orang pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual oleh pasangan dan selain pasangannya. Dalam satu tahun terakhir, 8,2 juta perempuan atau 9,4 persen mengalami kekerasan fisik dan seksual. Demikian hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2016 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS).

 

Survei itu atas permintaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) untuk mengetahui prevalensi perempuan yang pernah mengalami kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi, baik oleh pasangan maupun bukan pasangannya. Data itu merupakan data pertama yang dimiliki pemerintah terkait kekerasan fisik dan seksual yang dialami perempuan. Selama ini belum ada data representatif yang menggambarkan kekerasan terhadap perempuan karena data yang terkumpul hanya data terlaporkan, bukan representasi sebenarnya. Hasil SPHPN itu disampaikan Kepala BPS Suhariyanto bersama Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian PPPA Vennetia Ryckerens Danes, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M Sairi Hasbullah, dan wakil Badan PBB untuk Pendanaan Kependudukan (UNFPA) Indonesia, Annete Sachs Robertson, di Kantor BPS Jakarta, Kamis (30/3).

 

Dari SPHPN 2016 dengan sampel 9.000 rumah tangga, ditemukan 1 dari 3 perempuan usia 15-­64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan atau seksual, baik oleh pasangannya maupun bukan pasangannya, selama hidupnya. Terdata 1 dari 10 perempuan itu mengalami kekerasan fisik dan seksual dalam 12 bulan terakhir. Prevalensi kekerasan fisik dan/atau seksual oleh bukan pasangan lebih tinggi (23,7 persen) dibandingkan kekerasan oleh pasangan (18 persen). Jadi, dari total 87 juta perempuan usia 15-­64 tahun, sekitar 15 juta orang mengalami kekerasan fisik dan seksual oleh bukan pasangan mereka. ”Jika bukan pasangan, berarti oleh orang lain, terutama di luar rumah,” kata Sairi. Kekerasan terbanyak yang dilakukan bukan pasangan adalah kekerasan seksual. Misalnya, pelaku berkomentar atau mengirim pesan dan gambar bernada seksual, menyentuh atau meraba tubuh, atau pelaku memaksa hubungan seksual. ”Ini jadi peringatan. Kita harus angkat kekerasan perempuan jadi extra ordinary crime agar mendapat perhatian lebih,” kata Suhariyanto.

 

Perkotaan

 

Survei menemukan angka perempuan di perkotaan lebih tinggi mengalami kekerasan fisik dan seksual daripada di pedesaan. Selain kekerasan fisik dan seksual, perempuan yang pernah atau sudah menikah mengalami kekerasan emosional (psikis) dan kekerasan ekonomi oleh pasangan/suami. Ada 24 perempuan pernah mengalami kekerasan ekonomi oleh pasangan dan 20,5 persen mengalami kekerasan psikis dari pasangan. Kekerasan fisik dan seksual lebih banyak dialami perempuan berlatar belakang pendidikan SMA ke atas (39,4 persen) dan berstatus tak bekerja (35,1 persen).

 

Vennetia mengatakan, hasil SPHPN amat penting agar pemerintah punya data representatif yang menggambarkan prevalensi kekerasan terhadap perempuan secara keseluruhan. ”Selama ini data kekerasan yang dipakai hanya berdasarkan data terlaporkan, seperti gunung es, hanya terlihat puncaknya,” ujar Vennetia. Data itu akan digunakan untuk evaluasi dan dasar penyusunan program serta kebijakan pemerintah terkait perlindungan perempuan. ”Data ini jangan sekadar dicatat, yang terpenting bagaimana kita memanfaatkan untuk mengeliminasi kekerasan pada perempuan,” ucapnya.

 

SPHPN adalah survei pertama di Indonesia yang khusus menggali informasi kekerasan terhadap perempuan berusia 15­-64 tahun yang pernah atau sudah menikah dan belum menikah. Kekerasan yang dialami adalah dalam 12 bulan terakhir atau selama hidup. Kuesioner SPHPN mengadopsi kuesioner Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ”Kesehatan dan Pengalaman Hidup Perempuan”, yang didesain khusus untuk menggali informasi kekerasan terhadap perempuan.

Tags: -